Info kini nusantara.com –
Membangun atau merenovasi hunian kini bukan sekadar soal estetika dan fungsi ruangan. Lebih dari itu, pemilihan material bangunan menjadi fondasi utama dalam menciptakan lingkungan hidup yang sehat dan aman bagi masyarakat. Salah satu elemen yang patut diwaspadai namun sering terabaikan adalah kandungan timbal pada cat bangunan.

Adjie Negara, seorang Arsitek dan Urban Designer dari KIND Architects, menekankan bahwa di tengah masifnya pembangunan saat ini, pemilihan material yang aman menjadi faktor krusial. Menurutnya, kesehatan jangka panjang penghuni rumah, kantor, sekolah, hingga tempat penitipan anak sangat bergantung pada kualitas bahan yang digunakan.

“Sangat penting untuk memastikan material seperti cat, pipa, hingga pelapis lantai bebas dari zat berbahaya. Ini adalah langkah perlindungan, terutama bagi anak-anak yang memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap paparan polutan kimia,” jelas Adjie dalam keterangannya baru-baru ini.

 

Risiko di Balik Cat yang Mengelupas Masalah sering muncul pada bangunan lama atau fasilitas publik yang kurang terawat. Seiring bertambahnya usia bangunan dan pengaruh cuaca, lapisan cat bisa mengalami degradasi atau mengelupas. Jika cat tersebut mengandung timbal, serpihannya akan berubah menjadi debu halus yang mudah terhirup atau tertelan secara tidak sengaja.

Kelompok yang paling berisiko adalah ibu hamil dan balita, terutama anak-anak yang sering memasukkan tangan ke mulut setelah menyentuh permukaan benda di sekitarnya. Oleh karena itu, inspeksi rutin dan pengecatan ulang dengan material standar keamanan tinggi menjadi solusi mutlak untuk meminimalkan risiko kesehatan.

Dampak Serius Timbal bagi Tubuh Data Surveilans Nasional menunjukkan fakta yang cukup mencemaskan: 1 dari 7 anak di Indonesia memiliki kadar timbal dalam darah di atas ambang batas 5 µg/dL. Guru Besar Departemen Kimia FMIPA UI, Yuni Krisyuningsih Krisnandi, menjelaskan bahwa timbal adalah logam berat yang bersifat akumulatif. Artinya, meskipun terpapar dalam jumlah kecil namun terjadi terus-menerus, zat ini akan mengendap di organ tubuh seperti ginjal, tulang, hingga sistem saraf.

 

Dampak Serius Timbal bagi Tubuh Data Surveilans Nasional menunjukkan fakta yang cukup mencemaskan: 1 dari 7 anak di Indonesia memiliki kadar timbal dalam darah di atas ambang batas 5 µg/dL. Guru Besar Departemen Kimia FMIPA UI, Yuni Krisyuningsih Krisnandi, menjelaskan bahwa timbal adalah logam berat yang bersifat akumulatif. Artinya, meskipun terpapar dalam jumlah kecil namun terjadi terus-menerus, zat ini akan mengendap di organ tubuh seperti ginjal, tulang, hingga sistem saraf.

Dari sisi medis, Dokter Spesialis Anak dr. Reza Fahlevi menambahkan bahwa paparan timbal pada anak dapat menghambat perkembangan otak. Dampaknya mulai dari penurunan kemampuan kognitif, gangguan perilaku, hingga prestasi belajar yang merosot. Sementara pada orang dewasa, risiko penyakit kardiovaskular dan gangguan ginjal menjadi ancaman nyata.

Pentingnya Standar Bebas Timbal (Lead-Free) Secara global, WHO telah menetapkan ambang batas kandungan timbal dalam cat maksimal 90 ppm. Indonesia sendiri telah memiliki SNI 8011:2022 yang mengatur standar cat dekoratif, meski saat ini penerapannya masih bersifat sukarela bagi produsen.

Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama, mengingat data Bank Dunia (2023) menyebutkan hampir 45 persen hunian di Indonesia masih menggunakan cat yang berisiko mengandung timbal, khususnya pada cat besi dan kayu.

Kolaborasi antara pemerintah, pengembang, dan industri cat sangat diperlukan untuk mendorong edukasi penggunaan material bersertifikasi. Dengan memilih material yang aman, masyarakat tidak hanya membangun gedung, tetapi juga sedang berinvestasi pada kualitas kesehatan generasi mendatang.