Info kini nusantara.com – Industri perfilman tanah air kembali dikejutkan oleh tangan dingin sutradara Joko Anwar. Lewat karya terbarunya yang bertajuk Ghost in the Cell, sineas yang akrab disapa Jokan ini tidak hanya ingin menakut-nakuti penonton dengan penampakan hantu, melainkan mencoba membedah sisi kelam dan realitas pahit di balik jeruji besi lembaga pemasyarakatan (lapas).

Film ini bukan sekadar horor biasa, melainkan sebuah kritik sosial yang menusuk. Jokan memanfaatkan narasi horor fiksi untuk menyuarakan kegelisahannya terhadap bobroknya sistem institusi di negeri ini. Secara garis besar, Ghost in the Cell mengisahkan tentang entitas gaib yang secara khusus mengincar manusia-manusia yang jiwanya telah dipenuhi oleh aura kemarahan dan energi negatif.

Pesan yang ingin disampaikan pun sangat sarkastis: kejahatan manusia ternyata bisa jauh lebih biadab hingga membuat iblis sekalipun merasa “kalah”. Penonton diajak merenung bahwa memupuk kebencian di dalam hati adalah cara tercepat mengundang petaka masuk ke dalam hidup.

Secara visual, Jokan tampil berani dengan menyuguhkan adegan gore yang cukup ekstrem. Namun, yang paling unik adalah penggunaan elemen pemicu trypophobia—ketakutan pada lubang-lubang kecil—sebagai bentuk teror psikologis. Visualisasi ini bukan tanpa alasan; ia menjadi simbol filosofis tentang pembusukan moral yang perlahan menggerogoti nurani manusia, layaknya parasit di Lapas Labuan Angsana.

Lapas dalam film ini digambarkan sebagai miniatur sebuah negara. Menariknya, stigma penjahat di sini justru dibalik. Bukan narapidana yang menjadi fokus kejahatan, melainkan oknum sipir yang bertindak keji. Penjara berubah menjadi ruang di mana penyiksaan dianggap legal demi kedisiplinan, dilakukan oleh mereka yang lebih gemar menghukum daripada membina.

Keberanian Jokan semakin terlihat saat ia menyelipkan sindiran halus terhadap realitas sosial kita, mulai dari aktivis masa lalu yang berakhir menjadi koruptor di masa tua, hingga kongkalikong kotor antara pimpinan napi dan sipir demi menjaga citra publik.

Kualitas akting di film ini tak perlu diragukan lagi dengan kehadiran aktor kawakan seperti Abimana Aryasatya, Rio Dewanto, hingga Lukman Sardi. Namun, kejutan terbesar justru datang dari Aming. Ia berhasil menanggalkan persona komedinya dan tampil sangat dingin sekaligus mengancam sebagai seorang psikopat—sebuah transformasi yang patut diacungi jempol.

Meski atmosfernya sangat menyesakkan, penonton masih diberikan ruang untuk “bernapas” melalui humor satir yang cerdas. Sentilan seperti dialog, “Tapi kan lu tinggal di Indonesia, bukan Norwegia,” atau candaan mengenai preman yang lebih memilih masuk ormas daripada penjara, menjadi bumbu segar di tengah ketegangan yang intens.

Walau terdapat sedikit celah pada logika cerita mengenai mekanisme hantu pendeteksi aura dan beberapa dialog yang repetitif, Ghost in the Cell tetap menjadi karya yang membekas. Film ini menyadarkan kita bahwa iblis yang paling nyata bukanlah makhluk halus, melainkan sistem yang rusak dan hilangnya kemanusiaan dalam diri kita sendiri. Menontonnya adalah sebuah pengalaman tertawa getir melihat cermin realitas negeri yang terasa sesak namun nyata.