Info kini nusantara.com – Gelombang amarah internasional pecah menyusul tewasnya seorang jurnalis terkemuka asal Lebanon, Amal Khalil, dalam sebuah serangan udara beruntun atau double-tap strike oleh pasukan Israel di lokasi yang sama pada Rabu (22/4/2026). Perdana Menteri Lebanon pun secara tegas melabeli insiden tragis ini sebagai sebuah bentuk kejahatan perang yang nyata.

Amal Khalil (43), wartawan senior untuk surat kabar Al-Akhbar, akhirnya dimakamkan pada Kamis (23/4). Kepergiannya meninggalkan duka mendalam sekaligus fakta menyakitkan; tim penyelamat sempat terhalang oleh situasi keamanan yang sangat berisiko, sehingga upaya evakuasi dari reruntuhan bangunan tidak dapat dilakukan dengan segera.

Kronologi Tragis di Desa al-Tiri Berdasarkan rincian yang dihimpun dari laporan The Guardian, Amal bersama rekannya sedang bertugas di dekat Desa al-Tiri ketika kendaraan di depannya dihantam rudal. Meski terluka, Amal sempat berlindung di sebuah rumah dan menghubungi kantornya untuk melaporkan bahwa posisinya sedang terancam.

Nahas, rumah persembunyian tersebut justru menjadi sasaran serangan udara kedua. Serikat Jurnalis Lebanon mengungkapkan bahwa pasukan Israel dituding sengaja menghalangi tenaga medis yang mencoba memberikan pertolongan dengan menggunakan granat kejut. Jenazah Amal baru bisa dievakuasi menjelang tengah malam, enam jam setelah serangan terjadi, meski ia dan rekannya sudah mengenakan atribut pers yang jelas.

Respons Keras Pemerintah Lebanon Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menilai aksi ini sebagai upaya sistematis untuk membungkam kebenaran. Menurutnya, penargetan terhadap pekerja media adalah pelanggaran berat terhadap hukum kemanusiaan internasional.

“Ini adalah pendekatan yang sengaja dilakukan untuk menutupi agresi. Ini bukan sekadar insiden, melainkan pendekatan yang mapan dan harus ditolak oleh dunia,” tegas Perdana Menteri Nawaf Salam melalui pernyataan resminya. Ia menambahkan bahwa Lebanon akan membawa kasus ini ke meja diplomasi internasional.

Bantahan Israel dan Catatan Ancaman Masa Lalu Di pihak lain, Israel melalui penasihat urusan luar negeri, Ophir Falk, membantah adanya kebijakan sengaja untuk menyasar warga sipil maupun jurnalis. Ia mengklaim pihaknya tengah meninjau insiden tersebut dan selalu berupaya meminimalkan risiko di lapangan.

Namun, rekam jejak menunjukkan hal yang berbeda bagi Amal. Pada tahun 2024, ia mengaku pernah menerima ancaman pembunuhan melalui pesan singkat yang diduga dari pihak Israel. Pesan tersebut secara spesifik menyebutkan detail pergerakannya dan memperingatkannya agar segera meninggalkan wilayah selatan Lebanon.

Kecaman Lembaga Internasional Organisasi Reporters Without Borders dan Committee to Protect Journalists (CPJ) turut mengutuk keras kejadian ini. Direktur Regional CPJ, Sara Qudah, menegaskan bahwa serangan berulang di lokasi yang sama serta penghalangan akses medis adalah pelanggaran berat hukum humaniter.

Hingga saat ini, Amal tercatat sebagai jurnalis kesembilan yang gugur akibat serangan di Lebanon sepanjang tahun 2026, memperpanjang daftar hitam kekerasan terhadap kebebasan pers di wilayah konflik tersebut.