Info kini nusantara.com – Persaingan sengit antara Arsenal dan Manchester City dalam memperebutkan gelar juara Liga Inggris musim ini semakin memanas. Kedua raksasa Premier League tersebut terus terlibat dalam aksi saling sikut yang penuh drama, di mana posisi puncak klasemen bisa berubah hanya dalam hitungan jam.

Belakangan ini, situasi tampak lebih berpihak pada Manchester City. Meski armada Mikel Arteta sempat mendominasi puncak klasemen sejak Oktober 2025, dominasi tersebut perlahan mulai terkikis oleh konsistensi pasukan Pep Guardiola yang tanpa celah.

Titik balik bagi The Gunners terjadi pada pertengahan April lalu. Kekalahan mengejutkan 1-2 saat bertandang ke markas Bournemouth menjadi awal goyahnya mental tim asal London Utara tersebut. Padahal, saat itu Arsenal memiliki tabungan pertandingan yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk memperlebar jarak hingga 12 poin. Namun, kesempatan emas untuk memberikan tekanan psikologis kepada The Citizens justru menguap begitu saja.

Man City, yang dikenal memiliki mental juara, langsung memanfaatkan momentum tersebut. Kemenangan telak atas Chelsea seolah menjadi sinyal bahwa mereka siap melakukan comeback. Puncaknya terjadi dalam duel head-to-head pada 19 April, di mana City berhasil menundukkan Arsenal dengan skor 2-1.

Peta persaingan benar-benar berubah total setelah laga kontra Burnley pada 23 April. Gol semata wayang Erling Haaland tidak hanya memberikan tiga poin tambahan bagi City, tetapi juga resmi menggeser Arsenal dari posisi pertama.

Saat ini, kedua tim sama-sama mengoleksi 70 poin dari 33 pertandingan dengan selisih gol yang identik (+37). Namun, Manchester City berhak duduk di urutan teratas berkat produktivitas gol yang lebih tajam, yakni 66 gol berbanding 63 milik Arsenal.

Kini, bola panas ada di tangan Mikel Arteta. Dengan lima laga tersisa, Arsenal memiliki keuntungan jadwal karena akan bermain lebih awal di dua pekan ke depan. Pertanyaannya, mampukah mereka memanfaatkan jadwal ini untuk kembali memberikan tekanan, atau justru tekanan tersebut malah berbalik menjadi beban yang membuat mereka terpeleset kembali?