Info kini nusantara.com – Jagat maya tengah dihebohkan dengan sebuah kisah mengharukan yang datang dari pelosok Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul. Melalui unggahan video singkat akun Instagram @pantaujogjakarta pada 12 Maret 2026, terungkap perjuangan seorang bocah laki-laki berusia 9 tahun yang rela melepaskan masa kecilnya demi bakti kepada sang ibu.

Di saat anak-anak seusianya sedang asyik belajar di kelas 3 SD, bocah malang ini justru sudah tiga tahun meninggalkan bangku sekolah. Keputusan berat itu ia ambil bukan tanpa alasan. Ia memilih menjadi “mata” dan “tangan” bagi ibunya yang kini menderita kebutaan total serta kelumpuhan.

Kehidupan keluarga ini sangat jauh dari kata layak. Di rumah sederhana mereka, keseharian dihabiskan dengan keterbatasan ekonomi yang menghimpit. Sang ayah yang dulunya tumpuan keluarga sebagai buruh bangunan, kini tak lagi berdaya karena kondisi kesehatan yang menurun drastis. Sementara itu, kakak tertuanya yang baru saja menamatkan SMP, harus banting tulang mencari nafkah demi menyambung hidup keluarga.

Upaya dari pihak sekolah dan warga sekitar sebenarnya tidak kurang-kurang. Kabarnya, para guru sudah berulang kali datang membujuk agar ia mau kembali bersekolah. Namun, rasa cemas yang mendalam terhadap kondisi ibunya membuat bocah ini teguh pada pendiriannya: tetap di rumah menjaga sang ibu.

Meski bantuan logistik berupa sembako dan uang tunai dari pemerintah daerah telah mengalir, muncul kekhawatiran besar mengenai kondisi mental sang anak. Narasi dalam unggahan tersebut menekankan bahwa selain bantuan materi, bantuan psikologis sangat mendesak diperlukan agar bocah ini bisa kembali memupuk semangat belajar tanpa dibayangi rasa bersalah.

Hingga saat ini, unggahan tersebut telah menuai lebih dari 2.300 suka dan ratusan komentar dari warganet yang merasa simpati. Banyak yang mendesak agar Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial memberikan solusi menyeluruh, mulai dari perawatan medis untuk ibunya hingga model pendidikan fleksibel bagi sang bocah.

Tragedi kecil di Gunungkidul ini menjadi pengingat keras bagi kita semua tentang masih adanya celah dalam akses pendidikan dan kesehatan di wilayah terpencil. Harapannya, perhatian publik ini bisa segera membuahkan tindakan nyata dari pihak berwenang agar hak pendidikan sang anak tidak hilang tertelan beban hidup yang terlalu dini.